Klaim Berdiri di Atas Tanah Warisan, Satu Keluarga di Pekanbaru Nekat Robohkan Tembok SD


Aksi nekat dilakukan satu keluarga di Kota Pekanbaru, Riau. 

Mereka nekat merobohkan tembok sekolah dasar (SD) karena menganggap berdiri di tanah warisan orang tua mereka. 

Bangunan tembok SD Taruna Islam di Jalan Melur Indah, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau, dirusak sejumlah pria yang merupakan satu keluarga.

Para pria tersebut merobohkan tembok sekolah, karena mengklaim bangunan tembok sekolah itu berdiri di atas tanah orangtuanya.

Menurut cerita dari Pendiri Yayasan Taruna Islam, Supriyadi, sejak tahun 2017, para pelaku mengklaim bangunan sekolah itu sebagiannya memakai tanah orangtua mereka.

"Mereka mengklaim sebagian tanah sekolah kami ini tanah orangtuanya. Tapi, kami merasa tidak ada permasalahan antara kami dengan sepadan tanah sekolah," ujar Supriyadi saat diwawancarai wartawan, Sabtu (7/11/2020).

7 kali mediasi
Dia mengatakan, untuk menyelesaikan kasus ini, kedua belah pihak sudah dilakukan tujuh kali mediasi.

Mediasi dilakukan mulai tingkat RT, RW, Camat, Badan Pertanahan Nasional (BPN), kepolisian hingga DPRD Pekanbaru.

Namun, masalah tersebut tidak kunjung ada titik terang.

"Sebenarnya kalau memang ada masalah yang mereka rasa ada tumpang tindih tanah, mestinya mereka tempuh jalur hukum. Tidak dengan cara (merusak) seperti ini," kata Supriyadi.

Luas tiba-tiba bertambah
Dia mengatakan, tanah orangtua pelaku sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM) dengan luas 8.130 meter persegi.

Namun, belakangan pelaku menyebut luas tanahnya seluas 9.920 meter persegi.

"Padahal sudah ada sertifikat mereka, di situ jelas luasnya. Jadi kita memang tidak ada masalah dengan sepadan. Dan bahkan, sekolah kita ini justru sudah mundur dari batas yang seharusnya," ujar Supriyadi.

Untuk sekolahnya, juga sudah memiliki SHM yang dibeli pada tahun 2013 silam, dengan luas 2.070 meter persegi.

"Dan itupun pakai pembiayaan bank. Bank sudah cek ke BPN tidak ada masalah selama ini. Makan biaya miliaran, kan enggak mungkin enggak dicek. Sepadan lain kami tak ada masalah, cuma sepadan di bagian timur saja yang dipermasalahkan," kata Supriyadi. 

Para guru histeris saat sekolah dirusak
Aksi perobohan tembok, lanjut Supriyadi, dilakukan pelaku pada 31 Oktober 2020 lalu. Para guru yang menyaksikan aksi pengrusakan merekam videonya hingga viral di media sosial.

"Di rekam videonya sama guru. Semua guru histeris. Mereka syok melihatnya," sebut Supriyadi.

Lalu, pada Rabu (4/11/2020) lalu, lanjut dia, pelaku kembali merobohkan tembok sekolah dan mencoret dinding sekolah.

Bahkan, Supriyadi menyebut pelaku sempat memukuli seorang penjaga sekolah hingga mengalami luka robek di mulut.

"Kasus pemukulan penjaga sekolah sudah dilaporkan ke Polsek Tenayan Raya tanggal 17 September 2020. Sudah visum juga. Cuma sampai saat ini belum ada kejelasan," pungkas Supriyadi.

Sebagaimana diberitakan, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pekanbaru, Riau, menangkap empat orang tersangka pengrusakan sekolah dasar (SD).

Polisi amankan 4 tersangka
Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya mengatakan, keempat tersangka berinisial AL, EK, RY dan AM.

"Keempat tersangka ini masih satu keluarga. Mereka secara bersama-sama merobohkan bangunan tembok SD Taruna Islam di Jalan Cemara Indah, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru," kata Nandang kepada wartawan saat konferensi pers di Polresta Pekanbaru, Jumat (6/11/2020) sore.

Ia mengungkapkan, motif pengrusakan yang dilakukan empat tersangka, karena mereka mengklaim bangunan tembok SD tersebut berdiri di atas tanah milik keluarganya.

Para tersangka sudah berhasil merobohkan sebagian tembok sekolah dengan menggunakan palu martil yang dilakukan sejak Sabtu 31 Oktober 2020 lalu. 

Penjaga sekolah dianiaya para pelaku
Tak hanya itu, para pelaku juga melakukan penganiayaan terhadap penjaga sekolah yang melarang tersangka merobohkan tembok sekolah.

Atas kejadian tersebut, pihak sekolah melaporkan para pelaku ke Polresta Pekanbaru.

Setelah dilakukan penyelidikan, petugas Satreskrim Polresta Pekanbaru menangkap empat orang tersangka tersebut pada Rabu (4/11/2020) pagi.

Petugas menyita barang bukti satu buah palu martil, dan beberapa material bangunan tembok sekolah yang dirobohkan.

"Dan ternyata, sebelum anggota datang ke lokasi kejadian, para tersangka masih melakukan perusakan. Untuk itu, mereka langsung ditangkap dan dibawa ke Polresta Pekanbaru untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Nandang.

sumber : solo.tribunnews

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel